Di keseharian kita, sering kali, pustakawan dan calon pustakawan, dan para pemilik profesi lainnya, mendapati pertanyaan seperti ini "profesinya apa?" "kerja dimana?" bahkan "kuliah di jurusan apa?". And then, sebagai seorang pustakawan bagaimana jawaban kita? apakah diam, bohong atau jujur apa adanya?. Jarang sekali ada yang dengan gagahnya atau dengan bangganya menjawab "Saya adalah seorang pustakawan" . Mengapa demikian? Mengapa calon pustakawan dan pustakawan sendiri kurang PD terhadap profesinya? Karena mereka tahu bahwa profesi pustakawan masih dianggap tidak penting dan hanya dilihat sebelah mata oleh kebanyakan orang terutama yang awam tentang perpustakaan.
Di mata mereka pustakawan hanyalah penjaga perpustakaan, penjaga buku spesifiknya, yang kalau tidak ada pengunjung kerjanya cuma duduk-duduk lalu pulang. Apakah memang benar seperti itu? Mungkin orang yang berkecimpung atau pernah bersentuhan dengan dunia kepustakawanan pasti tidak setuju, namun begitulah imej yang tertanam di otak mereka. We wonder why? Ada banyak alasan yang kebanyakan ada karena ulah pustakawan sendiri. Seperti kebanyakan pustakawan pemalas dan tukang ngeluh, banyak minta sedikit kerja, banyak protes sedikit progres. Buktinya banyak perpustakaan yang tidak berwajah seperti perpustakaan. Ada kemungkinan dia bukan dari lulusan Ilmu Perpustakaan, ya kan? hhe. Duh?
Lalu, bagaimana kita menjelaskan bahwa eksistensi pustakawan itu sangatlah penting bagi orang awam?
Bayangkan saja kita punya banyak buku pribadi, pasti kita akan menjaga buku tersebut dengan sangat baik, ditata dengan sangat rapi di rak kita, tiap hari kita bersihkan area sekitar rak agar tidak berdebu, menjaga agar tidak ada hewan-hewan kecil parasit disekitarnya dan menjaga agar buku kita tersebut tidak hilang. Nah, seperti itu, pustakawan tugas sederhananya juga sama ketika kita punya koleksi pribadi, namun pustakawan juga punya tugas tambahan, mereka harus berusaha agar perpustakaannya tidak "mati", dan lagi tugas sederhananya itu juga disertai dengan teknik yang sedikit lebih hebat. Ilmu pengolahannya itu didapat tidak semudah ketika Prof. Dumbledore menjentikkan tongkat sihir Eldernya :D , mereka minimal harus mengikuti diklat minimal 3 bulan lho. Seperti agar membantu agar pemustaka dalam penemuan kembali koleksi, pustakawan harus belajar tentang klasifikasi, agar sirkulasi tertata dengan rapi mereka belajar otomasi perpustakaan. Menjadi seorang Chef saja butuh sekolah, kenapa Pustakawan tidak? Bagaimana? Pustakawan tidak kalah hebat kan sama profesi lain?
Intinya menjadi pustakawan tidaklah mudah. Mereka agen-agen penyalur sumber-sumber informasi, mereka agen penjaga dan pengembang sumber daya intelektual. Yah, walaupun mungkin banyak yang lupa akan jati dirinya sebagai pustakawan, tapi apa yang sudah mereka kerjakan tersebut adalah tidak lepas dari tujuan mulia untuk mencerdaskan kehiduapan bangsa Indonesia.
Di mata mereka pustakawan hanyalah penjaga perpustakaan, penjaga buku spesifiknya, yang kalau tidak ada pengunjung kerjanya cuma duduk-duduk lalu pulang. Apakah memang benar seperti itu? Mungkin orang yang berkecimpung atau pernah bersentuhan dengan dunia kepustakawanan pasti tidak setuju, namun begitulah imej yang tertanam di otak mereka. We wonder why? Ada banyak alasan yang kebanyakan ada karena ulah pustakawan sendiri. Seperti kebanyakan pustakawan pemalas dan tukang ngeluh, banyak minta sedikit kerja, banyak protes sedikit progres. Buktinya banyak perpustakaan yang tidak berwajah seperti perpustakaan. Ada kemungkinan dia bukan dari lulusan Ilmu Perpustakaan, ya kan? hhe. Duh?
Lalu, bagaimana kita menjelaskan bahwa eksistensi pustakawan itu sangatlah penting bagi orang awam?
Bayangkan saja kita punya banyak buku pribadi, pasti kita akan menjaga buku tersebut dengan sangat baik, ditata dengan sangat rapi di rak kita, tiap hari kita bersihkan area sekitar rak agar tidak berdebu, menjaga agar tidak ada hewan-hewan kecil parasit disekitarnya dan menjaga agar buku kita tersebut tidak hilang. Nah, seperti itu, pustakawan tugas sederhananya juga sama ketika kita punya koleksi pribadi, namun pustakawan juga punya tugas tambahan, mereka harus berusaha agar perpustakaannya tidak "mati", dan lagi tugas sederhananya itu juga disertai dengan teknik yang sedikit lebih hebat. Ilmu pengolahannya itu didapat tidak semudah ketika Prof. Dumbledore menjentikkan tongkat sihir Eldernya :D , mereka minimal harus mengikuti diklat minimal 3 bulan lho. Seperti agar membantu agar pemustaka dalam penemuan kembali koleksi, pustakawan harus belajar tentang klasifikasi, agar sirkulasi tertata dengan rapi mereka belajar otomasi perpustakaan. Menjadi seorang Chef saja butuh sekolah, kenapa Pustakawan tidak? Bagaimana? Pustakawan tidak kalah hebat kan sama profesi lain?
Intinya menjadi pustakawan tidaklah mudah. Mereka agen-agen penyalur sumber-sumber informasi, mereka agen penjaga dan pengembang sumber daya intelektual. Yah, walaupun mungkin banyak yang lupa akan jati dirinya sebagai pustakawan, tapi apa yang sudah mereka kerjakan tersebut adalah tidak lepas dari tujuan mulia untuk mencerdaskan kehiduapan bangsa Indonesia.
“Harry — I think I've just understood something! I've got to go to the library!” And she sprinted away, up the stairs. “What does she understand?” said Harry distractedly, still looking around, trying to tell where the voice had come from. “Loads more than I do,” said Ron, shaking his head. “But why’s she got to go to the library?” “Because that’s what Hermione does,” said Ron, shrugging. “When in doubt, go to the library.” ― J.K. Rowling, Harry Potter and the Chamber of Secrets


