The Thing that I Desperately Want To Have

Rak untuk perpustakaan rumah yang unik dan elegan

Kuliah Umum Pak Blasius Sudarsono :D

Membedah buku kolaborasi antara 'bapak" dengan "anak" yang berjudul "Perpustakaan Untuk Rakyat"

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 28 Mei 2013

Copy Right vs Open Access vs Common Creative Writing

           Perpustakaan merupakan gudangnya buku yang mengandung banyak informasi.  Kebutuhan akan informasi yang semakin meningkat, membuat perpustakaan harus sekuat tenaga memenuhi kebutuhan dari masyarakat, biasanya dengan cara pengadaan dalam bentuk fotokopi. Padahal buku merupakan sebuah karya cipta yang mungkin saja oleh sang pencipta diembeli dengan copyright. Ini merupakan salah satu isu yang berhubungan dengan Hak Cipta. Disis lain, banyak orang yang menjunjung tinggi gerakan Open Access, dimana orang bisa dengan mudah mengakses karya digital dengan alasan agar informasi dengan mudah disebarkan dan bisa lebih bermanfaat. Permasalahannya adalah  open access yang merupakan sebuah hak manusia dalam dunia literasi, terkadang hak tersebut disalahgunakan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dengan munculnya berbagai isu, baik dari pihak copyright dan open access, bagaimana perpustakaan menghadapinya?
            Ada baiknya kita memahami dahulu arti, dan hakikat dari ketiga poin diatas.
            Copyright, atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Hak Cipta, merupakan hak khusus yang dimiliki oleh seorang pencipta terhadap karya ciptanya, untuk menyebarkan, memperbanyak, dan mengumumkan ciptaannya namun tetap diatur dalam undang-undang yang sudah ditetapkan oleh negara, dalam hal ini Indonesia. Jadi seorang pencipta karya pasti memiliki hak untuk mengatur bagaimana karya ciptaannya akan diperlakukan orang nantinya. Sehingga orang lain harus meminta izin dari sang pencipta ketika akan melakukan sesuatu seperti memperbanyak, menyebarkan dll terhadap ciptaan tersebut.
            Lah? lalu bagaimana bisa sebuah perpustakaan contohnya memperbanyak sebuah ciptaan bahkan tanpa izin dari pencipta? Didalam undang - undang hak cipta nomor 19 tahun 2002, disebutkan bahwa tidak menjadi masalah jika memperbanyak bahkan menyebarkan asal digunakan dalam lingkup pendidikan dan tidak dikomersilkan. Beda halnya dengan yang sengaja mengkopi kemudian diperjualbelikan, yang mana tidak hanya merugikan pencipta tapi juga penerbit. Ringkasnya seseorang akan terbebas dari kekang Copyright jika sudah mendapat izin dari pencipta dan penerbit juga.
            Open Access. Dengan harga buku cetak yang terkadang mahal, open access merupakan kegiatan yang sangat membantu untuk menghemat biaya buku terutama bagi mahasiswa seperti saya. Apa sih open access? open access merupakan karya-karya yang boleh dibaca, didownload dan disebarkan secara bebas. Jadi open access hanya berlaku bagi dokumen-dokumen digital dan yang tersebar di internet. Susah memang jika mengharapkan tidak terjadinya hal buruk di internet. Open access memang diadakan untuk tujuan yang baik namun kadang disalahkan hingga merugikan orang. Peng-open access-an suatu karya yang tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pencipta dan penerbitnya sudah termasuk dalam pelanggaran hak cipta. Lalu, apakah semua karya yang beredar diinternet dan diopenaccesskan sudah bebas dari copyright? Tidak ada yang bisa menjamin. Kemudian ujung-ujungnya website yang menyediakan karya-karya tersebut ditutup.
            Selain itu, ada masalah pelik yang juga  terkait dengan perlakuan terhadap pencipta dan karyanya adalah pengutipan yang dengan kejam tidak memberikan sumber atau menyebutkan nama dari pengarang. Itulah mengapa common creative writing diperlukan. Kata common creative writing sebenarnya asing bagi saya. Dan ternyata maksud kata itu adalah kutipan, ya, manulis kutipan dengan benar. Ketika kita mengutip, atau mengubah kata-kata dari kalimat seseorang tanpa perubahan yang berarti setidaknya kita harus menyebutkan sumbernya, baik pengarang, judul buku atau artikelnya, dll. Kenapa? pertama sebagai penghormatan, berdosa sekali rasanya ketika kita melakukan plagiat bahkan plagiat ide sekalipun. WOW. Kedua, agar kita tidak melakukan pelanggaran terhadap hak cipta, apalagi jika kita menguip banyak kata. Ketiga, agar kita tidak menyalahgunan open access.
            Bagaimanakah sikap perpustakaan seharusnya mengenai masalah-masalah diatas? Yang paling penting adalah menanamkan kesadaran tentang pentingnya copyright. Jadi tidak hanya perpustakaan yang bergerak tetapi lembaga-lembaga pendidikan juga harus memberikan pengajaran tentang copyright terlebih lagi tentang kutipan (common creative writng). Ketika disekolah siswa seharusnya ditanamkan rasa penghargaan terhadap karya orang lain, yaitu dengan diajari bagaimana cara mengutip yang baik.Kemudian di perpustakaan juga dalam user education contohnya ditanamkan tentang copyright dan open access. Sehingga diharapkan isu-isu tersebut bisa dihilangkan.

Minggu, 21 April 2013

Chemistry Diantara Aku dan Perpustakaan

Kali ini saya akan menulis tentang kisah saya sendiri, hehe, kisahnya tentang bagaimana bisa saya bertahan dan malah menikmati jurusan dan calon profesi saya saat ini :D
Sebelumnya let's make it clear, I'm a student of Adab Faculty, UIN SUKA. My major is Information and Library Science. See? Sudah tau kan sekarang aku kuliah dimana dan di jurusan apa. Mungkin pada bertanya-tanya, kok bisa-bisanya ngambil jurusan itu, kenapa gak ngambil yang kece dikit gitu?? :D haha, eeeiit, tapi jangan salah, Ilmu perpustakaan itu kece lho, super kece malah, kece dunia akhirat. Lha kok?
Setelah lulus SMA, pasti pada bingung kan mau kuliah apa kerja, kalau kuliah, kuliah dimana, jurusan apa, wawawaw, itu terjadi juga kepada saya :D Tahun pertama setelah kelulusan saya tidak kuliah, soalnya ketinggalan informasi, cuma ikut SNMPTN yang kala itu ambil jurusan sastra dan psikologi, soalnya aku memang senang sekali dengan bahasa, apalagi bahasa asing, beuuhh apalagi tuh psikologi, demen abis :D sebenernya keterima sih di psikologinya, tapi dengan pertimbangan jurusan itu di **N(salah satu univ di Jogja) akreditasinya masih C, akhirnya gak diambil dh, huhu. Pas tahun kedua, akhirnya keterima juga di jurusan Ilmu Perpustakaan UIN SUKA, pilihan pertama, asli!! Gak tahu juga pastinya kenapa pilihan pertama Ilmu Perpustakaan gitu. Suruhan orang tua? ah, gak mungkin, selama pendaftaran univ manapun Ibu ku gak pernah ikut campur dalam hal jurusan *bestMommy :* . Ikut-ikutan? ikut siapa yak? . Yang pasti aku suka mencoba hal baru, suka penasaran dan mungkin inilah yang membuat ku terjebak di Ilmu Perpus :D haha
Galau, galau dan galau. Itulah yang saya rasakan pada awal-awal perkuliahan. Belum ada chemistry sama jurusan ini. Kemudian saya mencoba gabung dengan LIBERTY, salah satu komunitas anak perpustakaan di kampus. Dan ternyata luar biasa. LIBERTY menjembatani saya dan Ilmu perpustakaan. Melalui LIBERTY, saya khususnya merasakan bagaimana teori itu diaplikasikan kepada masyarakat, kepada dunia kerja yang sesungguhnya. Yang paling saya suka adalah ketika melakukan pengolahan di perpustakaan. Sedikit demi sedikit chemistry diantara kami (aku dan perpustakaan) mulai muncul. Ditambah lagi setelah ngobrol dengan seorang tokoh Perpustakaan. Saya curhat tentang kegalauan itu. Beliau menjawab "kepustakawanan adalah panggilan hidup. berani tidak menjawab "ya" atas panggilan itu. jika ya berarti anda kan menemukan semangat hidup sebagai pustakawan. Memang jalan kepustakawanan itu jalan sepi dan berliku. Adalah usaha yang berani menjawab "ya" untuk mengubah sepi menjadi "hening" sehingga membuat pikiran jernih. selain itu juga berani menikmati jalan berliku dan naik turun itu sebagai jalan yang menyenangkan. Prinsip hidup saya adalah menjalani, menikmati, namun tepat bereksperimentasi. karena latar belakang saya ilmu fisika yang selalu berusaha memahami alam,maka saya juga berusaha memahami kepustakawanan."
Sekarang kegalauan itu sudah hilang. Mengingat bagaimana bahagianya orang ketika informasi yang dibutuhkan itu ia dapat, dan kemudahan dalam mendapatkannya itu karena kita . Mengingat bagaimana orang bisa cerdas dan berpengetahuan luas, dan karena bantuan kita. Dan bagaimana orang-orang akan mendoakan orang yang sudah dengan baik hati membangunkan gudang informasi bagi mereka. Itulah saya katakan kenapa ilmu perpustakaan itu kece dunia akhirat.
Saya, Qoriana Fatima, berada di jurusan ilmu perpustakaan, menjadi calon pustakawan dan saya bangga.
"Really, being a librarian is a much more dangerous job than you realize" -- Libba Bray



Minggu, 17 Maret 2013

Perpustakaan Rakyat dan TBM : Sama Tapi Dibedakan

 (Resume Kuliah Umum Prodi Ilmu Perpustakaan)

          Pada kuliah umum Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga tanggal 11 Maret 2013 lalu yang bertemakan Perpustakaan Untuk Rakyat, yang diadopsi dari judul buku karangan Bapak Blasius Sudarsono yang berkolaborasi dengan "anak"nya yaitu mbak Ratih Rahmawati, seorang mahasiswi UI prodi Ilmu Perpustakaan yang saat ini sedang menyelesaikan Skripsi. Dalam kuliah ini juga membedah atau lebih tepatnya membahas buku karya duet tersebut. Meskipun tempat duduk terbatas dan banyak yang rela lesehan, mahasiswa mengikuti jalannya kuliah ini dengan antusias :) 

          Kuliah ini menghadirkan pembicara yang pertama adalah Bu Afia Rosdiana (lebih akrabnya dipanggil Bu Afi), Pak Blasius Sudarsono (Pak Blas), dan tentu saja tidak ketinggalan Mbak Ratih Rahmawati sendiri. Kesempatan berbicara pertama diberikan kepada Bu Afi. Beliau pertama menuturkan bagaimana beliau bisa bekerja di Perpustakaan Kota padahal beliau bukan orang yang mempunyai dasar perpustakaan, Pustakawan atau bukan asal mempunyai jiwa kepustakawanan yang kuat itu lebih baik daripada pustakawan yang tidak memiliki jiwa kepustakawanan dan status hanya dari SK Menpan. Kemudian beliau menyampaikan komentarnya mengenai buku "Perpustakaan Rakyat", menurut beliau buku tsb memberikan suasana baru tentang perpustakaan, biasanya buku tentang perpustakaan kan hanya membahas tentang teknis di perpustakaan, sedangkan buku ini cara penyampaiannya menarik, berbentuk dialog dan berbentuk narasi. Selanjutnya beliau menyampaikan sejarah nama TBM dan perpustakaan masyarakat khususnya yang ada di Yogyakarta. TBM dan perpustakaan masyarakat sebenarnya memiliki tujuan dan substansi yang sama yaitu mengembangkan minat baca masyarakat, lalu kenapa namanya berbeda? ternyata yang namanya TBM itu berada dibawah naungan KEMENDIKBUD sedangkan Perpustakaan Masyarakat berada dibawah naungan Perpusnas, see? it is nothing, right?

          Kemudian Mbak Ratih dan Pak blas melanjutkan dengan bercerita asal mula buku tsb tercipta, yaitu dimulai ketika Mbak Ratih, seorang mahasiswa yang galau dengan jurusannya saat itu, curhat kepada pak Blas dan kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang berguna juga dalam pencarian jati diri sebagai calon pustakawan dan kemudian mendapat pencerahan dalam penelitiannya tsb. Pak Blas said that library is librarian, jadi yang di belakang perpustakaan adalah pustakawan. Pustakawan itu sama saja dengan budayawan yang istilah lainnya Knowledgeable persons yang mempunyai kewajiban mensejahterakan masyarakat, mencerdaskan hidup mereka namun semua itu harus dimulai dengan diri sendiri.

          Pak Blas juga menuturkan, empat pilar kepustakawanan guna mengembangkan perpustakaan, yaitu :
  1. Kepustakawanan merupakan pandangan hidup
  2. Kepustakawanan adalah spirit of life
  3. Kepustakawanan adalah karya pelayanan
  4. Kepustakawanan harus dilaksanakan dengan profesional

           Menjadi pustakawan yang berkompeten harus memiliki skill, diantaranya yang penting sbb:
  1. Pustakawan harus berpikir kritis, sehingga peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya
  2. Pustakawan harus pintar membaca, tidak hanya membaca teks, tapi harus pintar membaca "dunia"
  3. Pustakawan harus pintar menulis, sehingga memiliki informasi dari pengetahuan yang dimiliki perseorangan bisa saling dibagi
  4. Pustakawan harus memiliki kemampuan enterpreneur
  5. Pustakawan harus memiliki etika
Those are made you be an extraordinary librarian!!!!

        Kesimpulan : TBM dan Perpustakaan Masyarakat hakekatnya adalah sama, dan kreativitas merupakan tiang utama dalam keduanya. Dan pustakawan ketika memiliki semua skill yang disebut tetap harus menunjukkan keberadaanya dengan aksi-aksi, tidak hanya kata-kata saja.
"Librarians are the coolest people out there doing the hardest job out there on the frontlines. And every time I get to encounter or work with librarians, I'm always impressed by their sheer awesomeness".- Neil Gaiman

Minggu, 24 Februari 2013

The Librarians are great, eh?

Di keseharian kita, sering kali, pustakawan dan calon pustakawan, dan para pemilik profesi lainnya, mendapati pertanyaan seperti ini "profesinya apa?" "kerja dimana?" bahkan "kuliah di jurusan apa?". And then, sebagai seorang pustakawan bagaimana jawaban kita? apakah diam, bohong atau jujur apa adanya?. Jarang sekali ada yang dengan gagahnya atau dengan bangganya menjawab "Saya adalah seorang pustakawan" . Mengapa demikian? Mengapa calon pustakawan dan pustakawan sendiri kurang PD terhadap profesinya? Karena mereka tahu bahwa profesi pustakawan masih dianggap tidak penting dan hanya dilihat sebelah mata oleh kebanyakan orang terutama yang awam tentang perpustakaan.

Di mata mereka pustakawan hanyalah penjaga perpustakaan, penjaga buku spesifiknya, yang kalau tidak ada pengunjung kerjanya cuma duduk-duduk lalu pulang. Apakah memang benar seperti itu? Mungkin orang yang berkecimpung atau pernah bersentuhan dengan dunia kepustakawanan pasti tidak setuju, namun begitulah imej yang tertanam di otak mereka. We wonder why? Ada banyak alasan yang kebanyakan ada karena ulah pustakawan sendiri. Seperti kebanyakan pustakawan pemalas dan tukang ngeluh, banyak minta sedikit kerja, banyak protes sedikit progres. Buktinya banyak perpustakaan yang tidak berwajah seperti perpustakaan. Ada kemungkinan dia bukan dari lulusan Ilmu Perpustakaan, ya kan? hhe. Duh?

 Lalu, bagaimana kita menjelaskan bahwa eksistensi pustakawan itu sangatlah penting bagi orang awam?

Bayangkan saja kita punya banyak buku pribadi, pasti kita akan menjaga buku tersebut dengan sangat baik, ditata dengan sangat rapi di rak kita, tiap hari kita bersihkan area sekitar rak agar tidak berdebu, menjaga agar tidak ada hewan-hewan kecil parasit disekitarnya dan menjaga agar buku kita tersebut tidak hilang. Nah, seperti itu, pustakawan tugas sederhananya juga sama ketika kita punya koleksi pribadi, namun pustakawan juga punya tugas tambahan, mereka harus berusaha agar perpustakaannya tidak "mati", dan lagi tugas sederhananya itu juga disertai dengan teknik yang sedikit lebih hebat. Ilmu pengolahannya itu didapat tidak semudah ketika Prof. Dumbledore menjentikkan tongkat sihir Eldernya :D , mereka minimal harus mengikuti diklat minimal 3 bulan lho. Seperti agar membantu agar pemustaka dalam penemuan kembali koleksi, pustakawan harus belajar tentang klasifikasi, agar sirkulasi tertata dengan rapi mereka belajar otomasi perpustakaan. Menjadi seorang Chef saja butuh sekolah, kenapa Pustakawan tidak? Bagaimana? Pustakawan tidak kalah hebat kan sama profesi lain?

Intinya menjadi pustakawan tidaklah mudah. Mereka agen-agen penyalur sumber-sumber informasi, mereka agen penjaga dan pengembang sumber daya intelektual. Yah, walaupun mungkin banyak yang lupa akan jati dirinya sebagai pustakawan, tapi apa yang sudah mereka kerjakan tersebut adalah tidak lepas dari tujuan mulia untuk mencerdaskan kehiduapan bangsa Indonesia.
“Harry — I think I've just understood something! I've got to go to the library!” And she sprinted away, up the stairs. “What does she understand?” said Harry distractedly, still looking around, trying to tell where the voice had come from. “Loads more than I do,” said Ron, shaking his head. “But why’s she got to go to the library?” “Because that’s what Hermione does,” said Ron, shrugging. “When in doubt, go to the library.” ― J.K. Rowling, Harry Potter and the Chamber of Secrets

GOOGLEs

Google Translate Google Maps